Rumah Literasi dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mata Hati Meniti Perubahan di Zaman yang Berubah

Aktivitas Rumah Literasi “Mata Hati”. Akar Photo

Situasi keterpasungan dan ketertindasan yang berlangsung dalam dunia pendidikan, disadari atau tidak, telah menimbulkan resistensi dari para penggiat sosial. Akhirnya, banyak merintis berdirinya pendidikan alternatif yang berupaya membebaskan peserta didik dari situasi keterpasungan dan penindasan. Kalau dalam dunia persekolahan kita identik dengan penyeragaman dan indoktrinasi, pendidikan alternatif mencoba memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk menentukan pelajaran yang disukai atau memilih jenis aktivitas yang sesuai dengan minat dan hobi mereka masing-masing, serta kebutuhan atas kondisi factual dimana pendidikan alternative didirikan.

Dalam kehidupan masyarakat yang sangat kontras, lahirlah suatu kebudayaan yang disebut Freire dengan kebudayaan “bisu”. Kesadaran refleksi kritis dalam budaya seperti ini tetap tidur dan tidak tergugah. Akibatnya, waktu lalu hanya dilihat sebagai sekat hari ini yang menghimpit. Manusia tenggelam dalam “hari ini” yang panjang, monoton dan membosankan sedangkan eksistensi masa lalu dan masa akan datang belum disadari. Dalam kebudayaan bisu yang demikian itu kaum tertindas hanya menerima begitu saja segala perlakuan dari kaum penindas. Bahkan, ada ketakutan pada kaum tertindas akan adanya kesadaran tentang ketertindasan, dehumanisasi karena sebagai prakondisi untuk menguasai realitas hidup telah menjadi kebisuan.

Ketika berbicara tentang konsep pendidikan Pauo Freire tentang pendidikan membebaskan atau ketidak-sadaran historis (historical anesthesia) yang berarti keadaan masyarakat yang tidak mau tahu apa yang terjadi dalam masyarakatnya, tidak ikut mempertimbangkan kegiatan dan partisispasinya dalam kancah perubahan sosial dan pendidikan merupakan nilai yang paling vital bagi proses pembebasan manusia. Maka, Pembentukan Unit Literasi dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Mata Hati oleh Akar Foundation adalah merupakan upaya meniti jalur permanen untuk pembebasan, Akar Foundation sadar ada dua tahap dan jalur yang harus dititih Pertama, pendidikan menjadikan orang sadar akan penindasan yang menimpa mereka dan melalui gerakan praktis mengubah keadaan itu. Kedua, pendidikan merupakan proses permanen aksi budaya pembebasan.

Akar Foundation sadar Pedagogy of The Oppressed yang di embani oleh ’Mata Hati” adalah tindakan penyadaran (conscientizacao) atau yang sering kita sebut “konsientasi”, upaya untuk memahami keadaan nyata yang sedang dialami siswa atau murid. Meskipun wilayah terakhir yang ingin dituju adalah perubahan sistemik, namun pendidikan di ’Mata Hati” bertujuan untuk pembebasan dan pemanusiaan (humanisasi). Dalam rangka itulah ”Mata Hati” melihat bahwa ‘penyadaran’ (Konsientisasi) sebagai inti dari pendidikannya. Pendidikan harus bertujuan menyadarkan peserta didik akan realitas sosialnya.

Peserta Baca di Rumah Literasi di Desa Air Pikat, Kabupaten Rejang Lebong. Akar Photo

Rumah Literasi ”Mata Hati” yang sudah di bentuk oleh Akar Foundation ini telah berdiri sejak tahun 2013 di Kota Bengkulu, Desa Air Pikat dan Air Lanang Kabupaten Rejang Lebong, dan saat ini telah terdata setidaknya 320 orang terlibat aktif secara peserta baca. Sedangkan Unit Pusat Kegiatan Belajar Masyarakatan (PKBM) berada di Desa Air Pikat Kabupaten Rejang Lebong dan telah mengeluarkan Siswa sebanyak 50 orang yang berijazah setara atau Paket A, B dan C. Pilihan lokasi ini di dasari dengan kondisi Masyarakatnya yang terbelakang secara ekonomi, pendidikan dan aksesibilitas pada sumber daya hutan. Akar Foundation sebelumnya, yaitu sejak tahun 2010 telah melakukan pendampingan intensif di 5 Desa (Air Lanang, Tebat Pulau, Tebat Tenong Dalam, Tanjung Dalam dan Baru Manis), pendampingan ini memfasilitasi resolusi konflik pengelolaan hutan serta mendorong pengelolaan Hutan oleh Masyarakat memalui skema Hutan Kemasyarakatan (HKm). Dan, saat ini pengelolaan hutan Lindung Bukit Daun Register 5 telah di kelola oleh 721 Kepala Keluarga yang di legitimasi oleh Keputusan Bupati RL, No: 180.186.III Tahun 2015 tentang pemberian Usaha Pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan (IUPHKm) kepada Gabungan Kelompok Tani dalam Kabupaten Rejang Lebong di 5 Desa (Air Lanang, Tebat Pulau, Tebat Tenong Dalam, Baru Manis dan Tanjung Dalam). Rumah Literasi dan PKBM Mata Hati hadir untuk menjawab tantanan yang dihadapi oleh Masyarakat pengelola Hutan dan generasi yang akan datang.

Proses Belajar Mengejar diPKBM “Mata Hati”

Akar Foundation sadar bahwa dengan tujuan untuk pembebasan dan pemanusiaan (humanisasi). Dalam rangka itulah ”Mata Hati” melihat bahwa ‘penyadaran’ (Konsientisasi) sebagai inti dari pendidikannya, pendidikan harus bertujuan menyadarkan peserta didik akan realitas sosialnya butuh banyak literatur dan dukungan dari Banyak Pihak tentu saja dengan banyak bentuk dukungan; buku-buku, tenaga pendidik dan fasilitas dalam proses belajar mengajar.

 

Dukungan dapat di berikan kepada;

Jl. Bakti Husada No 66 Rt 10 Rw 03 Lingkar Barat
Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu 38225
Email; akar.bengkulu@gmail.com
http://www.akar.or.id
http://www.akarfoundation.wordpress.com

Contak Person:
Erwin S Basrin (Direktur Eksekutif)
HP 0813 6740 1020,
E Mail: tiak.bdikar@gmail.com

Donasi Bisa di Kirim:

No Rekening: 113-00-0470541-8
An: Akar Foundation
Nama Bank: Bank Mandiri KCP Bengkulu Panorama

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *